Membangun Tempat Ibadah Agamanya, Orang Ini Malah Dilaporkan Atas Penistaan Agama dan Diminta Diusir

 
sumber gambar: tempo
Ilustrasi Tempo

IDEANEWS.CO - Pada 6 Februari bulan ini, telah terjadi penyerangan dan rencana pembongkaran Gereja Katolik Paroki Santo Joseph Tanjung Balaikarimun yang sedang dalam tahap pembangunan oleh kelompok Ormas tertentu.


Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agustinus Dwi Pramodo membagikan kronologi penyerangan gereja yang dihimpun oleh tim pencari dan analisis Gerakan Masyarakat Indonesia Melawan Intoleransi (Gemayomi). Dalam dokumen itu diceritakan jika pembongkaran gereja oleh panitia pembangunan dimulai pukul 09.00 WIB pada Kamis, 6 Februari lalu.

Baru berjalan 30 menit, ada lima polisi yang datang dan meminta pembongkaran dihentikan dengan alasan menjaga kondusivitas. Namun pembongkaran tetap dilakukan.

Sekitar pukul 13.55 WIB, massa yang menolak mulai berkumpul dan mengerubungi gereja. Kondisi mulai memanas saat memasuki pukul 14.28 WIB. Massa yang berkerumun menggoncang pagar dan melontarkan caci maki.

Sekitar pukul 15.15 WIB, polisi membawa satu orang panitia ke Polres Karimun. Romo Paroki lalu meminta jaminan keamanan terhadap panitia tersebut. Tak lama, ia juga mengajak satu panitia pembangunan gereja lainnya untuk ikut ke Polres.

Di Polres Karimun, ketiganya diperiksa secara terpisah. Telepon genggam salah satu panitia sempat disita oleh polisi.

Saat ketiganya masih berada di Polres, ada sejumlah massa yang berunjuk rasa di sana. Polisi lalu mempertemukan pihak gereja dengan perwakilan demonstran.

Suasana mereda setelah Romo Paroki bertemu dengan Bupati dan Kapolres. Sekitar pukul 20.26 WIB, ketiganya baru kembali ke gereja.  Adapun polemik pembangunan gereja ini telah bergulir sejak 2013. Aksi massa juga sempat terjadi saat peletakan batu pertama renovasi gereja tersebut pada 25 Oktober 2019.

Setelah mediasi  di Polres Karimun beberapa waktu lalu, tak lantas membuat  kondisi mereda, bukan berdamai tapi malah seorang panitia pembangunan Gereja Katolik Paroki Santo Joseph Tanjung Balai, Karimun, Kepulauan Riau, Romesko Purba dilaporkan ke Kepolisian Resor Karimun. Dia dilaporkan atas tuduhan menista agama.

"Ada yang melaporkan ujaran kebencian," kata Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agustinus Dwi Pramodo, saat dihubungi, Sabtu, 15 Februari 2020.

Agustinus berkata Romesko adalah bagian humas dan informasi teknologi dari panitia pembangunan Gereja Santo Joseph.

Menurut Agustinus, Romesko memang menjadi pihak yang paling mengusahakan terbitnya surat IMB untuk pembangunan gereja. Pelaporan terhadap dirinya diketahui dari surat panggilan polisi. Polisi memanggil Romesko untuk pada Jumat, 14 Februari 2020.

Dalam surat itu disebutkan, ia dipanggil dalam kasus ujaran kebencian dan penghinaan terhadap umat Islam melalui Facebook.

Renovasi gereja ini belakangan menjadi polemik setelah Izin Mendirikan Bangunan gereja ini digugat sekelompok orang ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Kelompok tersebut bahkan sempat berdemo menolak pembangunan gereja ini. Dalam salah satu demo, massa menuntut Romesko diusir dari Karimun.

Agustinus menyayangkan langkah polisi yang mengusut kasus ini. Ia mengatakan sebenarnya antara masyarakat telah mencapai kesepakatan untuk menjaga kondusifitas sampai ada putusan pengadilan mengenai IMB Gereja Santo Joseph.

"Sayang sekali polisi begitu cepat reaksinya, dalam dua hari masak dua laporan diakomodir," kata dia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel