Banjir Masih Melanda Jakarta, Anak Buah Anies Malah Terima Kucuran Rp 300 Miliar untuk Beli Mesin Pendingin

 
sumber gambar : google
Photo

IDEANEWS.CO - Banjir di Jakarta masih menggenangi sejumlah titik kawasan. Salah satunya ada di depan KBN Cilincing, Jakarta Utara. Akibatnya, jalur tersebut untuk sementara tidak bisa dilalui oleh kendaraan.


Pantauan banjir Jakarta itu dilaporkan oleh TMC Polda Metro Jaya melalui Twitter resminya @TMCPoldaMetro pukul 07.25 WIB.

Photo Banjir

"07.35, banjir 30-50 cm di depan KBN Cilincing Jakut, untuk sementara belum bisa dilintasi kendaraan bermotor," tulis TMC Polda Metro Jaya yang dipantau Suara.com, Senin (24/2/2020) pagi.

Masih dari laporan TMC Polda Metro Jaya, banjir juga menggenangi jalur di depan KBN Cakung dan sementara hanya bisa dilalui oleh kendaraan besar jenis truk.

Namun, berita mencengangkan datang dari Pemprov DKI Jakarta yang mengucurkan dana sebesar Rp 300 miliar kepada PT Food Station Tjipinang Jaya setiap tahunnya. Anggaran itu digunakan untuk membeli mesin pendingin.

Direktur Utama PT Food Station Arief Prasetyo Adi mengatakan, dana tersebut dikucurkan melalui sesama BUMD DKI, Bank DKI. Sejak 2015, Food Station menerima anggaran paling sedikit Rp 500 miliar.

"Pendanaan bergulir Bank DKI yang kami terima memiliki plafon mulai dari Rp 100 miliar, Rp 150 miliar hingga mencapai Rp 300 miliar per tahun," ujar Arief dalam keterangan tertulis, Senin (24/2/2020).

Arief mengatakan, pihaknya selaku penyedia bahan pokok untuk makanan, memang sengaja membeli mesin pendingin untuk mencegah adanya bahan yang membusuk. Menurutnya dengan demikian, penyaluran bahan makanan kepada masyarakat ini bisa dilakukan dengan lebih baik melalui pemanfaatan teknologi.

"Ada barang yang umurnya memang pendek seperti ikan segar, sayur, cabai tapi kita punya teknologi memperpanjang save life, bisa diatur nitrogen, oksigen dan kelembapannya," ujar Arief.

Hanya saja, ia tidak merincikan soal mesin pendingin yang dimaksud. Namun Teknologi tersebut diklaim efektif memperpanjang masa simpan pangan tanpa mengurangi kandungan gizi maupun proteinnya.

Teknologi itu disebutnya bisa membuat harga pangan murah lebih terjaga lebih lama. Ia mengaku menerapkan hal ini untuk menjaga komoditas ikan kembung dan bawang putih.

"Jumlahnya ribuan ton kita simpan dalam mesin pendingin. Pada saat terjadi short supply, harga masih bisa lebih murah dari pasaran," kata Arief.

Bahkan, kata dia, pangan yang dijaga dengan mesin itu bisa terjual dengan harga 15 persen lebih murah dari harga pasaran. Karena itu, ia mengaku akan melanjutkan kerja sama dengan Bank DKI untuk memperoleh anggaran serupa ke depannya.

“Saya kira ini manfaat yang dihadirkan oleh Bank DKI saat bekerjasama dengan BUMD lain sangat luar biasa,” imbuhnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel