Ahok Tolak Tawaran Jadi Direktur Utama



sumber gambar : google
Ahok dan Presiden Jokowi
IDEANEWS.CO - Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok blak-blakan soal awal mulanya dia didapuk menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Hal itu disampaikan Ahok pada Tempo dalam wawancara khusus dengan Tempo, Rabu, 12 Februari 2020 lalu. 


Proses dimulai dari pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Bogor tak lama setelah keluar dari Rumah Tahanan Markas Korps Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok. Saat itu Jokowi menanyakan kesibukan yang direncanakan mantan wakilnya di kantor Gubernur DKI Jakarta tersebut. “Mau bisnis ayam,” ucap Basuki.

Di pertemuan itu pula, kata Basuki, Jokowi menceritakan rencananya membenahi masalah neraca perdagangan. Badan usaha milik negara dianggap sebagai salah satu senjatanya. Ahok diharapkan bisa membantu mengawasi, entah di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, di Perusahaan Umum Bulog, di Pertamina, entah di PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dua perusahaan terakhir, yang jika ditotal menguasai 28 persen aset BUMN, paling menarik bagi Basuki. 

Pembicaraan awal di Bogor itu dilanjutkan Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada itu pula yang kemudian mengatur pertemuan Basuki dan Erick Thohir, yang baru diangkat sebagai Menteri BUMN di kabinet baru Jokowi. Di luar, kabar Basuki bakal mengisi pos penting di salah satu perusahaan negara berembus kencang setelah dia kedapatan keluar dari kantor Kementerian BUMN seusai pertemuannya dengan Menteri Erick pada Rabu, 13 November 2019.

Beragam spekulasi sempat beredar. Kebetulan, kala itu, Erick memang tengah menyiapkan perombakan manajemen di sejumlah BUMN strategis. Beberapa perusahaan pelat merah juga sedang tak punya direktur utama definitif, seperti PLN setelah Sofyan Basir tersandung kasus dugaan korupsi PLTU Riau 1—belakangan dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan. 

Basuki mengklaim meminta Erick tidak memberinya mandat sebagai direktur utama. “Kalau dirut, saya enggak boleh nyambi di tempat lain,” ujarnya. Pria 53 tahun ini menyatakan lebih sreg apabila menempati posisi komisaris utama. “Selama dirutnya oke.” Dari situ, Pertamina menjadi pelabuhan baru Basuki.

Ketika mengumumkan penunjukan Ahok, Erick menilai Pertamina membutuhkan Basuki. Tugas berat perseroan itu saat ini adalah mengurangi ketergantungan impor migas dan merealisasi target pembangunan kilang yang terbengkalai. “Kami perlu figur pendobrak,” kata Erick saat itu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel