Mengherankan, Ahok Kepeleset Bicara Soal Almaidah 51 Didemo 7 Juta Ummat, Tapi Ust Evie Effendi Tuding Nabi Muhammad Sesat Kok Sepi ?

loading...


BERANINEWS.COM - Seorang tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Adib Rofiuddin, mengaku heran dengan beberapa peristiwa ujaran yang sebenarnya terkategori penistaan agama tetapi tak ada gelombang protes seperti halnya pengerahan massa pada 2 Desember 2016 atau Aksi 212.

Pemimpin Pesantren Buntet Cirebon itu memberikan sedikitnya dua contoh, yakni pernyataan Rocky Cerung yang menyebut kitab suci fiksi dan Evie Effendi alias Ustaz Evie Effendi yang bilang Nabi Muhammad tersesat.

“Kalau, misalkan, semuanya mengatasnamakan agama, kenapa Rocky Gerung, sama Evie Effendi yang menyebut Nabi Muhammad tersesat tidak didemo? Kan enggak; diam saja,” katanya pada Kamis, 16 Agustus 2018.

Dia menyimpulkan, pada kedua kasus terakhir tidak ada atau sedikit unsur kepentingan politiknya.

Berbeda dengan peristiwa Aksi 212 yang dilatarbelakangi ucapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, gubernur DKI Jakarta kala itu, seorang pemimpin politik.

Aksi 212, menurutnya, diakui atau tidak dilatarbelakangi motif politik. Belakangan bertransformasi menjadi gerakan politik melalui kampanye dengan tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden.

Bahkan gerakan #2019GantiPresiden dijadwalkan dideklarasikan di Bandung pada Sabtu, 18 Agustus 2018.

“Saya kurang sepakat soal tagar itu, karena secara kepatutan muatannya provokasi kekerasan,” ujar Adib.

Rocky Gerung dan Kitab Suci

Pernyataan Rocky Gerung dalam program Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan stasiun televisi tvOne pada 10 April 2018 mendadak menjadi heboh. Dia menyebut kitab suci sebagai fiksi.

"Waktu kita sebut fiksi,” katanya memulai pendapatnya, “di kepala kita itu adalah fiktif. Fiction itu kata benda, yaitu literatur, selalu ada pengertian literatur dalam kata fiksi. Tapi karena dia diucapkan dalam forum politik, maka fiksi dianggap buruk."

"Fiksi itu sangat bagus. Dia adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, itu fungsi dari fiksi ... Jadi kalau Anda bilang itu fiksi lalu kata itu jadi pejoratif, itu artinya kita ingin anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena dua bulan ini kata fiksi itu jadi kata yang buruk. Kitab suci itu fiksi atau bukan?" kata Rocky, lalu jeda sejenak, kemudian tawa tertahan dan cemas dari penonton di sekitarnya.

Rocky Gerung kemudian menjawab sendiri, "Kalau saya pakai definisi 'fiksi itu mengaktifkan imajinasi', kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba. Babad Tanah Jawi itu fiksi. Jadi ada fungsi dari fiksi untuk mengaktifkan imajinasi, menuntun kita untuk berpikir lebih imajinatif, sekarang kata itu dibunuh oleh politisi."

"Dari sekarang kita mau pastikan bahwa fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Bisa bedain, enggak, tuh? Kalau saya bilang 'kitab suci itu fiktif', besok saya dipenjara, tapi kalau saya bilang 'kitab suci itu fiksi', saya punya argumen, karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci," ujarnya.

Ustaz Evie dan Nabi Muhammad

Evie Effendi dilaporkan kepada polisi oleh Hasan Malawi, seorang aktivis organisasi Ikatan Pelajar NU Jawa Barat, pada 11 Agustus 2018. Musababnya ialah sebuah video berdurasi 1 menit 20 detik.

Dalam video itu, Ustaz Evie mengutip Alquran ayat 7 pada Surat Ad Dhuha. Dia mengatakan bahwa Muhammad sebelum menjadi nabi adalah sesat. Dia juga mempertanyakan tradisi Muludan atau Maulid Nabi (peringatan hari lahir Nabi Muhammad) yang dilakukan kebanyakan masyarakat di Indonesia.

"Setiap kita bodoh, ada di Alquran Surat Ad-Dhuha, 'wa wajadakan dhooollan fa hada'. Setiap orang itu sesat awalnya, Muhammad termasuk. Maka kalau ada yang Muludan ini memperingati apa ini; memperingati kesesatan Muhammad," kata Ustaz Evie, dalam potongan video itu, yang kemudian beredar luas di media sosial.

sumber: viva.co.id
loading...
facebook -->

Subscribe to receive free email updates: