Masalah Baru Muncul, Gara Gara Ulah Ketum PPP, Mantan Relawan Serukan Tak Coblos Jokowi-Ma'ruf Amin

loading...
foto ilustrasi

BERANINEWS.COM - Testimoni mantan Ketua MK Mahfud MD yang membongkar aib sejumlah elite politik patut dicermati, termasuk omongan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy alias Rommy.

Komunitas Relawan Sadar (Korsa) Indonesia melihat pernyataan Romahurmuziy seperti disampaikan Mahfud itu bisa memecah belah umat Islam terutama Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU).

"Pernyataan Rommy sangat berbahaya bagi masa depan bangsa,"  kata Koordinator Pusat Komunitas Relawan Sadar (Korsa) Indonesia, Amirullah Hidayat dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (17/8/18).

Amir menegaskan, pernyataan Rommy menunjukkan bahwa rezim Jokowi ini bila berkuasa lagi akan menciptakan konflik sosial di antara bangsa.

Karena  Rommy menjadi tokoh koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Komunitas Relawan Sadar Indonesia mengimbau Warga Muhammadiyah dan NU untuk tidak memilih Jokowi-Ma'ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019 yang akan datang," tutupnya

Muhammad Romahurmuziy Minta Maaf

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy meminta maaf kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD jika ada ucapannya yang menyinggung perasaan.

"Prinsipnya kalau itu menimbulkan ketersinggungan, saya menyampaikan permohonan maaf," kata Romi, sapaan Romahurmuziy, seperti dikutip dari TV One, Rabu (15/8).

1. Mahfud MD tersinggung ucapan Romahurmuziy

Sebelumnya Mahfud MD mengatakan dirinya tersinggung dengan ucapan Romahurmuziy terkait dirinya yang gagal menjadi calon wakil presiden Jokowi untuk Pilpres 2019.

"Yang mungkin saya agak sedikit tersinggung justru pernyataan Ketua PPP, Romi, begitu keluar dari ruangan itu dia bilang, 'Loh Pak Mahfud itu kan maunya sendiri, bikin baju sendiri, siapa yang nyuruh'," kata Mahfud dalam program Indonesia Lawyer Club di TV One, Selasa (14/8/18) malam.

Seperti diketahui, Jokowi mengumumkan calon pendampingnya di Restoran Plataran, Menteng, pada Kamis (9/8/18) sore.

Beberapa saat sebelumnya Mahfud MD diketahui berada di dekat restoran tersebut. Saat itu Mahfud mengenakan kemeja putih, kemeja yang konon diminta Istana untuk dikenakan Mahfud. Nama Mahfud memang santer disebut akan menjadi pendamping Jokowi.

Namun saat Jokowi mengumumkan pendampingnya, nama yang disebut justru Ketua MUI Ma'ruf Amin, bukan Mahfud MD.

Menanggapi kemeja putih yang telah dikenakan Mahfud MD tersebut, Romahurmuziy menurut Mahfud mengatakan, "Mahfud itukan maunya sendiri, bikin baju sendiri, siapa yang nyuruh."

2. Romahurmuziy tidak tahu siapa yang meminta Mahfud MD mengenakan kemeja putih

Kepada TV One, Romahurmuziy mengatakan dirinya tidak tahu menahu siapa yang menyuruh Mahfud MD datang ke Restoran Plaratan di Menteng. Ia juga tidak tahu siapa yang meminta Mahfud MD mengganti baju. "Terus terang sampai saat ini saya tidak tahu," katanya.

Romahurmuziy mengatakan tidak ada yang membohongi Mahfud MD. Yang mungkin terjadi, kata Romahurmuziy, adalah informasi yang tidak lengkap yang diterima Mahfud MD.

Beberapa hari sebelum Jokowi menentukan pilihan, Romahurmuziy melanjutkan, persentase Mahfud MD menjadi pendamping Jokowi memang sangat besar.

"Prof (Mahfud) ini figur yang kuat, panjenangan sudah 90 persen," kata Romahurmuziy.

Namun, Romahurmuziy melanjutkan, Jokowi baru menentukan pendampingnya pada detik-detik terakhir, yakni pada Kamis sore.

Sementara Mahfud MD bertemu pihak istana pada Rabu malam. "Mungkin karena informasi yang tidak lengkap," kata Romahurmuziy.

3. Selain Mahfud ada tiga kandidat pendamping Jokowi lainnya

Romahurmuziy mengatakan, selain Mahfud MD, ada tiga nama lain yang diusung para pimpinan partai politik untuk menjadi pendamping Jokowi. Ketiganya adalah Jusuf Kalla, Ketua MUI Ma'ruf Amin, dan pengusaha Chairul Tanjung. Namun akhirnya Ma'ruf Amin yang dipilih Jokowi. "Presiden memiliki hak prerogatif," kata Romahurmuziy.

sumber: rmol.co & idntimes.com
loading...
facebook -->

Subscribe to receive free email updates: