Membedah Hubungan PKS, Ikhwanul Muslimin, Wahabi, dan ISIS

loading...
PKS-Berkoalisi-dengan-Gerindra

ISLAMNKRI.COM - Pernyataan Presiden PKS, Anis Matta yang terkesan “membela ISIS” bukanlah pernyataan yang biasa saja.

 

Apalagi pernyataan “pembelaan ISIS” tersebut dikemukakan di sebuah forum resmi untuk memotivasi ribuan kader PKS.

 

Bahkan jauh hari sebelumnya, Anis Matta pernah membuat puisi yang “membela dan mengagung-agungkan Osama Bin Laden”.

 

Bagi Anis Matta, Osama Bin Laden layaknya seorang pahlawan Islam yang harus dijadikan teladan bagi para aktivis Islam.

 

Saat masih menjabat Menhan, Juwono Sudarsono pernah memberikan peringatan akan adanya gerakan radikal dari Timur Tengah yang menyusup pada partai Islam.

 

Penyusupan gerakan radikal dari Timur Tengah tersebut bertujuan untuk mendirikan Negara Islam dan menghancurkan NKRI.

 

Juwono Sudarsono meminta masyarakat waspada, karena penyusup menunggu momentum yang tepat untuk melakukan radikalisasi dan mendirikan Negara Islam.

 

Pernyataan Anis Matta yang terkesan “membela ISIS” dan “memuja Osama Bin Laden” tentu tidak bisa kita lepaskan dari peringatan Juwono Sudarsono agar masyarakat waspada.

 

Apalagi jika kita bedah sejarah kelahiran PKS di Indonesia. Faktanya, memang tidak bisa lepas dari organisasi gerakan radikal di Timur Tengah yaitu Ikhwanul Muslimin.

 

Fakta juga menunjukkan elit-elit PKS banyak yang lulusan dari Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Mesir. Ada benang merah yang terjalin jelas antara PKS-Indonesia, Ikhwanul Muslimin-Mesir dan Wahabi-Arab Saudi.

 

Namun demikian fakta yang sudah jelas dan diketahui oleh publik tersebut masih sering dibantah oleh elit-elit PKS. Padahal dalam sebuah pernyataannya, Dr. Yusuf Qardhawi pernah menyebutkan bahwa Partai Keadilan (saat ini PKS) adalah perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

 

Sejarah juga menunjukkan, sejak berdiri hingga saat ini, PKS dikelola oleh gerakan Tarbiyah yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan politik Ikhwanul Muslimin.

 

Sejak tahun 80-an, gerakan Tarbiyah mampu menguasai kampus-kampus terkemuka seperti ITB, IPB, UI, UGM, Unpad, Unair, Unbraw dan Unhas.

 

Mereka membentuk usroh-usroh yang dibimbing oleh para murobbi dan menyusupkan ideologinya melalui asistensi mata kuliah wajib Agama Islam.

 

Tumbangnya rezim ORBA dan lahirnya reformasi 1998 merupakan momentum pertama gerakan Tarbiyah mulai berani membuka diri. Mereka lalu membentuk partai politik yang diberi nama Partai Keadilan.

 

Berikut Ini Beberapa Statemen Petinggi PKS Yang Cendrung Menganggap ISIS bukan sebuah ancaman :




[caption id="attachment_20531" align="aligncenter" width="320"]@foto Saiful Huda Ems @foto Saiful Huda Ems[/caption]

 

1.. Anis Matta Sebut Respons terhadap ISIS "Lebay"

 

Dikutip Islamnkri.com Dari media online Kompas.com , Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta menganggap respons dunia terhadap negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terlalu berlebihan. Seusai berkunjung dan bertemu dengan para pimpinan partai Islam di Turki beberapa waktu lalu, Anis mengaku mengetahui bahwa kekuatan ISIS hanya sebesar 30.000 pasukan.

 

Untuk itu, Anis menganggap sangat tidak relevan ISIS dimusuhi oleh puluhan negara.

 

"Kekuatan ISIS itu hanya 30.000 orang. Yang memusuhi 40 negara. Kalau dalam bahasa kita kan 'lebay'," kata Anis saat berpidato di hadapan 1.200 anggota legislatif terpilih PKS periode 2014-2019 di Hotel Sahid Jakarta, Minggu (21/9/2014).

 

2..Fahri Hamzah Tolak Tegas Adanya Perpu Pencegahan Teroris ISIS





Dikutip Islamnkri.com Dari media online republika, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan terlalu berlebihan sikap Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdjiatno yang mengusulkan agar Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perppu cegah ISIS di Indonesia.

Menurutnya, persoalan utama banyak WNI gabung ISIS murni lantaran ekonomi.

“Permasalahan utama dari pemberantasan paham ekstrem yang utama adalah memperbaiki kesejahteraan rakyat,” kata Fahri di Gedung Nusantara III, Jakarta, Kamis (19/3/15).

“Jangan berlebihan impor isu Timur Tengah tidak ada relevansinya dengan Indonesia, kita punya tradisi islam moderat yang kuat,” ujarnya.

“Kesenjangan ekonomi adalah bom waktu dan itu yang harus diwaspadai,” katanya.

“Ya nanti akan ada aturan itu untuk dibuat, bisa saja dalam bentuk Perppu (karena) undang-undang kan lama,” kata Tedjo di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (18/3/15)

3.. Mahfudz Siddiq: Tidak Ada ISIS, yang Ada Hanya Kelompok Radikal Lama

Dikutip islamnkri.com dari media online kompas.com , Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq ragu akan isu berkembangnya Negara Islam Irak Suriah atau ISIS di Indonesia.

Ia menduga bahwa pelaku terorisme yang menyerang kawasan Sarinah pada Kamis (14/1/2016) merupakan orang-orang lama.

"Tidak ada ISIS, yang ada hanya kelompok-kelompok radikal lama yang kemudian bermetamorfosis dan berafiliasi dengan jaringan ISIS," kata Mahfudz, Sabtu (16/1/2016) di Jakarta.

 

Lalu dimana letak wahabinya?

 

Ikhwanul Muslimin di bawah Sayyid Quthb memiliki hubungan yang erat dan kepentingan yang sama dengan Wahabi di Arab Saudi.

 

Baik Ikhwanul Muslimin di Mesir maupun Wahabi di Arab Saudi memiliki pemikiran yang sama tentang pemikiran Takfiri. Dalam pemikiran Sayyid Quthb, negara wajib hukumnya menjalankan syariat Islam.


Sehingga jika ada pemerintah muslim yang abai terhadap kewajiban menjalankan syariat Islam, maka dianggap telah keluar dari akidah Islam dan layak diperangi.

 

Jika melakukan perang secara terbuka baik melalui kudeta maupun pemberontakan maka dipastikan gerakan Tarbiyah pasti akan hancur.

 

Sejarah membuktikan, pemberontakan NII yang dipimpin oleh Danu Muhammad Hasan yang merupakan ayahanda Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, ternyata gagal total.

 

Bisa jadi belajar dari kegagalan pemberontakan NII, maka diputuskan untuk merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Islam melalui jalur politik dengan mendirikan partai politik.

 

Sedangkan untuk merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Islam melalui jalan perang diserahkan kepada ISIS yang saat ini sedang menjadi sorotan dunia.

 

Maka menjadi hal biasa dan bukan hal yang aneh, jika Presiden PKS Anis Matta dalam pernyataannya terkesan “membela ISIS” dan Osama Bin Laden.

 

Penulis: Sang Pujangga (seorang kompasianer)

loading...
facebook -->

Subscribe to receive free email updates: